Oleh: atrasku | September 7, 2008

Puasa yang terkepung budaya cerimonial

Ibadah puasa Ramadan tahun ini dijalankan umat Islam Indonesia dalam suasana bangsa yang sedang mengalami degradasi kultur di berbagai bidang kehidupan.

Secara sepintas lalu, bangsa ini mengalami kemajuan yang cukup menjanjikan di permukaan. Indikator-indikator makroekonomi membaik, setidaknya selalu stabil. Liberalisasi politik berhasil mengantarkan masyarakat ini sebagai negara demokrasi modern. Acara-acara keagamaan dan formalisasi ajaran agama juga cukup semarak.

Namun, indikator-indikator positif dari kondisi perekonomian itu belum berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan masyarakat. Angka kemiskinan dan pengangguran tetap belum bisa ditekan, bahkan cenderung meningkat. Semakin hari masyarakat merasa semakin sulit untuk bekerja dan mencari penghidupan.

Kemajuan penting dalam pembangunan politik juga belum disertai tumbuhnya kultur politik yang baik. Demokrasi prosedural memang dibangun, tetapi kultur politik yang demokratis tidak juga tumbuh. Etika politik masih diabaikan.

Demokrasi liberal yang sedang dibangun lebih menguntungkan dan memenangkan mereka yang punya uang. Masyarakat tidak lagi menjadi pemegang kedaulatan, tetapi menjadi konsumen yang dimainkan iklan-iklan dan janji-janji politik para elite.

Demikian juga dalam sektor keagamaan. Maraknya acara-acara keagamaan di televisi, banyaknya pejabat dan kelas menengah yang menunaikan ibadah ke tanah suci, belum dibarengi dengan transformasi kultur keberagamaan yang sehat.

Toleransi, penghormatan kepada perbedaan, keterbukaan untuk berdialog dengan semangat kasih sayang, kesediaan untuk berbagi dan bekerja sama cenderung menurun justru pada saat gairah keagamaan begitu meningkat.

Mengapa Terjadi

Mengapa situasi paradoksal itu bisa terjadi? Ada beberapa faktor yang bisa menjadi jawabannya. Pertama, kecenderungan di kalangan elite untuk mengedepankan simbol sebagai produk dari hegemoni pemikiran positivistik-fungsional. Ketika menjalankan kebijakan ekonomi, yang dikejar adalah angka-angka statistik. Misalnya, tingkat pertumbuhan dan inflasi.

Ketika angka yang menjadi terget sudah dicapai, puaslah hati para pemimpin. Soal bahwa angka itu tidak berbanding lurus dengan kenyataan masyarakat, itu seakan bukan urusan dan tanggung jawab mereka.

Dalam politik, sikap mengedepankan simbol tersebut dimanifestasikan dalam kebijakan yang mementingkan tercapainya prosedur-prosedur. Sementara dalam sektor keagamaan, sikap demikian diekspresikan dalam berbagai bentuk keberagamaan yang sifatnya lahiriah dan legal-formal. Misalnya, pemberlakuan syariat, pemakaian busana muslim, dan islamisasi berbagai sektor kehidupan yang lain.

Kedua, kecenderungan di kalangan elite dan kelas menengah untuk mencapai tujuan dengan jalan pintas dan instan. Banyak pemimpin yang tidak memiliki kesabaran untuk menjalani proses alamiah dalam mewujudkan tujuan hidupnya. Cara-cara instan ditempuh dengan membeli waktu.

Pada akhirnya, kesejahteraan masyarakat cukup dicapai dengan statistik. Demokrasi dibeli dengan prosedur-prosedur. Keberagamaan cukup dengan simbol-simbol dan ritus yang dilaksanakan semarak di mana-mana.

Ketiga, kecenderungan para elite untuk menjadi selebriti dalam segala hal dengan mengedepankan kemewahan dan citra diri yang dianggap efektif untuk menarik dukungan politik. Dengan sendirinya, politik menjadi berjarak dengan kenyataan, bahkan semakin menjauhinya.

Elite cenderung melindungi diri untuk bersentuhan langsung dengan persoalan nyata di masyarakat untuk jangka waktu yang lama.

Puasa mengajarkan banyak hal kepada manusia tentang kehidupan. Pertama, puasa mengajarkan bagaimana manusia harus membangun keseimbangan hidup dalam segala bidang kehidupan. Puasa adalah media untuk menguatkan ketahanan fisik seseorang sekaligus olah batin untuk memperkuat kepekaan sosial, kepedulian, dan meningkatkan moral-spiritualitas.

Kalau puasa dilaksanakan hanya untuk memenuhi kewajiban dengan tidak makan dan minum, tentu tidak ada maknanya kecuali hanya mendapatkan lapar dan dahaga. Demikian juga kalau seseorang hanya mengejar tujuan-tujuan simbolis dan statistik, itu kurang bermakna selain hanya kepuasan yang bersifat sementara.

Kedua, puasa melatih kesabaran dan kesadaran untuk menjalani kehidupan sebagai proses panjang. Untuk berbuka puasa, seseorang bisa saja tidak harus menunggu lebih dari separo hari yang dilaluinya. Tetapi, seseorang yang berpuasa dituntut untuk bersabar menunggu sampai magrib tiba saat diperbolehkan untuk berbuka.

Di sini puasa juga mengajarkan bahwa untuk mencapai kesenangan dan kenikmatan hidup, seseorang seharusnya tidak membeli waktu dengan menempuh cara-cara pragmatis dan instan untuk mencapai tujuan.

Ketiga, puasa mengajarkan seseorang untuk bekerja lebih giat dan meningkatkan etos kehidupan. Bila mau, seseorang yang berpuasa cukup diam di rumah dan tidur. Dia akan mendapat pahala dengan tidurnya itu. Tetapi, jika dia mau bekerja keras, pahala yang diterima akan jauh lebih besar.

Seseorang boleh puas jika sudah mencapai tujuan-tujuan simbolis-prosedural. Tetapi, jika dia mau bekerja keras untuk mewujudkan tujuan dalam arti sesungguhnya, itu lebih utama dan mencerminkan etos pribadinya yang bertanggung jawab.

* A. Muhaimin Iskandar , wakil ketua DPR


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: