Oleh: atrasku | Agustus 27, 2008

BUKU TENTANG BAHAGIA

Jam makan siang. Di pusat jajan di dekat kantor saya.

Saya sedang menikmati menu makan siang saya yang nggak jauh-jauh dari ‘kol and the gang’ alias gado-gado dan tempe goreng…(waaah. ..kayaknya sih saya memang layak mendapat brevet tempe-mania. ..hehehe) . Bersama seorang teman. Yang saat itu wajahnya sedang mendung. Seperti langit bulan Februari.

Kali ini dia sedang curhat. Mencurahkan uneg-uneg. Dari mulai urusan anak, urusan suami, urusan dapur, urusan gaji yang nyaris tidak mencukupi, urusan pekerjaan dan bos (halaaah…kapan, ya nggak ngomongin bos ?)…tumpah ruah seperti banjir bandang. Saya Cuma diam. Mendengarkan. Sambil mengibas-ngibaskan daun telinga. Mirip gajah yang mengusir lalat di badannya. Hmmm…

Di akhir pembicaraan, dia bilang begini , “Kok hidupku ini susah banget sih ? Banyak banget cobaan. Kapan aku bisa bahagia, ya ?”

Dia menatap saya sejenak, lalu berbisik pelan ,”Kamu bahagia, nggak ?”

Dessshhh !!! Hati saya mencelos. Bahagia ?

Iya…kapan kita bisa bahagia ? Itu pertanyaan menarik. Saya sendiri, kalau ditanya oleh orang lain, kapan bahagia ? Waaahhh….kayaknya sulit juga menjawabnya ya ? Soalnya saya ini kan termasuk orang yang moody, yang mudah terpengaruh oleh hal-hal yang menyangkut perasaan, dan kadang sumbu pendek juga. Alias gampang bertindak tanpa berpikir panjang…hehe. ..Jadi ya urusan bahagia itu bisa saja terjadi sehari tiga kali, seperti orang makan obat, tapi bisa juga sepanjang hari dan tujuh hari seminggu…hihihi. ..

Kembali ke teman saya, tampaknya dia serius banget dengan urusan kebahagiaannya itu tadi. Dia memegang tangan saya, dan menatap tajam ketika melihat saya Cuma cengar-cengir seperti kuda kebanyakan makan gabah.

“Aku serius niiih !”

Wah…!!!! Saya jadi mesti pasang kuda-kuda.

“Hmmm…kamu mau bahagia yang seperti apa ?” akhirnya saya balik bertanya. Ya, iyalah…ukuran bahagia tiap orang itu kan berbeda-beda.

Ada orang yang baru bisa berbahagia, kalau dia memiliki koleksi tas dan sepatu bermerek terkenal, dan mirip dengan selebritis dunia. Ada yang bisa berbahagia, kalau tiap minggu ganti handphone dengan model dan seri terakhir. Ada yang bisa berbahagia kalau dia punya mobil dengan warna-warni yang disesuaikan dengan bajunya…(gileee. ..showroom mobil kaleee…). Ada juga yang bahagia kalau dia bisa menguasai ilmu-ilmu baru yang orang lain belum tahu. Ada juga orang yang bahagia kalau dia bisa menggembirakan orang lain. Ada orang yang bahagia, kalau dia bisa mendidik anak-anaknya menjadi orang yang berhasil…( jadi sebelum berhasil dia akan was-was sepanjang waktu…hikss) …

Pokoknya siiiih…ukuran bahagia itu sangat personal …tergantung masing-masing orang. Tergantung nilai apa yang dipakainya.

Kalau saya pikir-pikir siiiih…Ada beberapa tipe orang yang mudah berbahagia, dan ada tipe orang yang memang sulit merasakan atau menikmati kebahagiaan.

Ada orang masa lalu, yang mudah tersentuh oleh kenangan masa lalu yang menyenangkan. Dia bahagia, setelah merasakan masa lalunya yang indah. Ada juga orang masa sekarang, atau orang hari ini. Dia akan lebih mudah merasa berbahagia, dan menikmati saat sekarang, seakan-akan itu merupakan kehidupannya selamanya. Dia menikmati apa saja, apa adanya, dan dia mudah sekali untuk merasa bahagia. Ada juga orang masa depan, yang akan berbahagia walaupun baru dalam batas wacana atau angan-angan belaka.

Itu adalah orang dengan tipe situasi yang dihayatinya.

Tapi sama dengan mata uang, tipe orang berdasarkan situasi juga bisa dua sisi. Interpretasi atau pemaknaan atas situasi yang dirasakannya di masa lalu, masa sekarang dan masa depan, juga bisa dilihat dari sisi sebaliknya. Kalau masa lalu yang ada di dalam peta hidupnya sebagai kenangan yang buruk, maka dia juga bisa tidak bahagia karena terus menerus menyesali masa lalunya.

Kalau hari ini dia menginterpretasi kehidupannya sebagai sesuatu yang salah atau sesuatu yang tidak sesuai dengan harapannya, maka dia akan merasa bahwa hari ini sangat buruk baginya. Dan selamanya akan buruk. Begitu juga masa depan, bisa-bisa diinterpretasinya sebagai sesuatu yang mengerikan dan menakutkan untuk dijalani. Sehingga dia akan pesimis, tidak berani melangkah, dan selalu ingin bergantung pada orang lain untuk mengambil alih hidup dan cita-citanya.

Jadi untuk bahagia, memang perlu ada harapan dan interpretasi atas hasil yang diperoleh. Interpretasi itulah yang membuat seseorang berbahagia atau tidak bahagia atas situasi dan kondisi yang dihadapinya.

Kembali ke kantor. Saya menemukan sebuah buku mengenai Kebahagiaan. Buku yang konon sangat terkenal dan sudah dicetak berulang kali.

Saya telepon teman saya, dan saya bilang, bahwa saya punya buku mengenai kebahagiaan. Dia senang sekali. Dan sore itu juga buku sudah berpindah tempat. Dari atas rak kredensa saya yang mirip dengan pasar loak buku Pasar Senen, ke tangan seorang teman yang sedang haus kebahagiaan. Hmm…semoga buku itu dapat menuntun teman saya ke jalan yang benar…eeeeeh, maaf…ke jalan yang penuh limpahan kebahagiaan dan keberkahan.. .

Lalu waktu bergulir cepat. Saya dan teman saya beberapa hari tidak berjumpa. Tidak bersapa. Tidak ber-SMS-ria. Suasana hening. Saya menduga, teman saya sedang berjuang mencerna kata demi kata dari buku Kebahagiaan itu.

Betul saja. Sore hari ketiga, dari serah terima buku Kebahagiaan itu, dia menelepon saya. Suaranya cerah ceria. Seperti sore yang bebas guyuran hujan.

“Gimana ? Ada perubahan ?” tanya saya. Penasaran.

“Hmmm…gimana, ya ? Ternyata untuk bahagia itu kita perlu merubah diri, ya ?” sahutnya penuh antusias.

“Ya, iyalah…kebahagiaa n itu kan tempatnya di hati. Ya, hatimu dulu yang disetel dan dirobah untuk menerima kenyataan. Barulah kamu bisa merasakan kebahagiaan.” Sahut saya, sok bijaksana.

“Iya juga…thank you banget yaaa…Aku bisa belajar juga nih dari buku yang kamu kasih. Walaupun nggak semua bisa diterapkan, tapi paling tidak…yaaa. ..lumayan deh ! Moga-moga aku bisa menerima hidup ini dengan hati yang lebih terbuka.” Dia bercuap lagi dengan nada yang lebih optimis.

“Eiiittt….tapi ingat, bukan karena buku itu kamu bisa bahagia. Tapi karena hati kamu !” saya menimpali.

“Iyeee…iyeee. ..aku tahu. Dan satu hal, aku bahagia punya teman kayak kamu !Yang mau mengerti aku pada saat aku lagi banyak masalah. ”

Gubraaaakkkk !!!

Saya nyaris meloncat ke langit-langit. Nggak sangka, teman saya yang selalu dirundung malang itu bisa juga bahagia….Woooooww ww….dan salah satunya, dia bahagia punya teman seperti saya…tra la la la…tri li li li…hati saya langsung berbunga-bunga.

Buku Kebahagiaan itu dikembalikan lagi kepada saya beberapa hari kemudian. Saya baca-baca ulang lagi isinya. Sebetulnya sih, buku itu biasa-biasa saja. Sama seperti buku matematika atau buku pelajaran memasak.

Semua buku memang biasa saja, kalau kita tidak dapat menangkap makna dari isi buku itu. Barangkali kalau ahli matematika, akan lebih suka baca buku tentang differential dan integral. Kalau ahli kimia suka baca tentang redoks-reaksi. Kalau koki atau jurumasak barangkali lebih suka baca tentang resep baru. Dan saya sendiri, jujur aja niiih…lebih suka baca peta dunia…sambil membayangkan kota-kota yang akan saya kunjungi di belahan bumi yang lain…hehehehe. ..

Saya merenung. Hidup dan kebahagiaan, adalah satu paket hadiah yang diberikan Tuhan kepada kita. Tidak mungkin Tuhan memberikan paket yang salah. Hanya perlu kejelian dan kepekaan kita, bagaimana kita membuka paket hadiah yang istimewa itu. Dan di situlah adanya kebahagiaan.

Jadiiii…barangkal i kita memang masih membutuhkan tuntunan untuk mendapatkan kebahagiaan. Barangkali kita perlu buku untuk mencapai kebahagiaan. Tapi yang paling penting adalah bagaimana kita mengasah diri untuk dapat membaca, dan memaknai buku kehidupan kita sendiri….

Salam hangat dari sudut hati yang berbunga lagi…

Ietje S. Guntur


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: